February 22, 2024

Kemperin Tempa Agen Perubahan Era Industri 4.0

0

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih. ( Foto: istimewa )

Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemperin) bersama Yayasan Upaya Indonesia Damai atau United in Diversity (UID) dan Tsinghua University telah menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan yang bertajuk Collective Creative Learning and Action for Sustainable Solution (Co-CLASS) dengan tema “The Fourth Industrial Revolution System Transformation”.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menghadiri Laporan Akhir Fase 1 Studi Komperehensif Electric Vehicle yang melibatkan UI, UGM, ITB, UNS, ITS, dan Udayana di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 6 November 2018.

Program strategis ini bertujuan untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) kompeten dalam menghadapi perkembangan era industri 4.0. “Guna mewujudkan visi Making Indonesia 4.0, pengembangan ekosistem industri 4.0 sangatlah penting. Program diklat ini telah berhasil menyatukan visi berbagai pemangku kepentingan sehingga membuka ruang inovasi dan kolaborasi yang lebih nyata,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, dalam sambutannya ketika menutup program Co-CLASS angkatan pertama di Jakarta, Selasa (4/12).

Airlangga menjelaskan, selain perlu penguasaan teknologi, SDM terampil juga berperan penting dalam upaya menyukseskan implementasi industri 4.0. Sebab, melalui wawasan dan pengetahuan, akan dapat memahami peluang serta mampu menghadapi tantangan saat ini. Bahkan, mereka akan menjadi agen perubahan dalam mentransformasi ke arah ekonomi digital.

“Jadi, soft skills dalam hal pengembangan kemampuan pribadi dan kepemimpinan juga diperlukan untuk dapat mengambil keuntungan dari penerapan industri 4.0. Maka itu, materi program Co-CLASS memang dititikberatkan pada peningkatan kapasitas SDM dalam bidang inovasi dan entrepreneurship leadership untuk industri 4.0. Ini menjadi prototipe dan perlu dilanjutkan,” paparnya.

Airlangga menambahkan, salah satu langkah prioritas dan menjadi kunci implementasi dari peta jalan Making Indonesia 4.0 adalah membangun SDM berkualitas. Apalagi, Indonesia akan menikmati dominasi jumlah penduduk usia produktif pada 10 tahun ke depan.

Bonus demografi ini diyakini dapat memacu pertumbuhan ekonomi nasional. “Dalam menghadapi industri 4.0, Tiongkok fokus dengan kecepatan, Jerman pada teknologi, serta Jepang dan Korea melalui skill. Sedangkan, Indonesia lebih memilih empowering human talents,” tegasnya.

Oleh karenanya, Kemperin semakin gencar menciptakan SDM kompeten sesuai kebutuhan pasar kerja saat ini melalui pelaksanaan pendidikan vokasi dari jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga tingkat Politeknik yang mengsung konsep link and match dengan industri.

“Kami mempunyai 9 SMK, 10 Politeknik, dan Akademi Komunitas yang telah menggunakan dual system, yakni 30% teori dan 70% praktik. Hampir semua lulusannya terserap kerja sebelum wisuda. Untuk itu, Co-CLASS ini juga bisa menjadi contoh dalam mencetak SDM yang literate dengan ekonomi digital,” imbuhnya. Apalagi, Indonesia butuh 17 tenaga kerja yang tidak “buta” teknologi digital di tahun 2030.

Berdasarkan survei McKinsey, peluang ekonomi digital akan meningkatkan nilai tambah terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar 200 miliar dollar AS pada tahun 2030.

Selain itu, dengan implementasi industri 4.0, diyakini pula mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2%. “Aspirasi besar Making Indonesia 4.0 adalah menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030,” ungkap Airlangga.

Sasaran tersebut, bisa tercapai dengan peningkatan kembali neto ekspor sebesar 10%, produktivitas naik dua kali lipat, dan anggaran riset mencapai dua persen dari PDB.

Sekretaris Jenderal Kemperin, Haris Munandar menyampaikan, program Co-CLASS angkatan pertama diikuti sebanyak 27 peserta, yang berasal dari kementerian dan lembaga, perusahaan industri, dan perguruan tinggi. Program ini wujud dari pelaksanaan Letter of Intent (LoI) antara Kemenperin dengan UID dan Tsinghua University yang telah ditandatangani pada Mei 2017.

Kegiatan Co-CLASS dimulai sejak Mei 2018 melalui berbagai lokakarya. “Mereka mendaptakan enam kali workshop, yang meliputi orientation workshop, foundation workshop, sensing workshop, deep-dive workshop, prototyping workshop dan final workshop sekaligus acara kelulusan,” terangnya. Dari program ini, ada aksi nyata yang muncul dari lima kelompok Co-CLASS untuk membuat prototipe solusi.

Haris menyebutkan, materi pembelajaran yang diberikan selama Co-CLASS berfokus pada peningkatan kapasitas pemimpin di era industri 4.0 dengan penekanan tentang sharing vision, membuat keputusan strategis, meningkatkan kesadaran dalam diri, membangun kemitraan, dan menjadi manusia pembelajar. “Mereka juga mendapatkan materi dari beberapa narasumber internasional terkait mental model, U theory, system thinking maupun human literacy,” ujarnya.

Pendiri UID Cherie Salim mengemukakan, pihaknya merasa bangga dilibatkan dalam program Co-CLASS ini, terutama dengan adanya prototipe ide dalam upaya pengembangan industri nasional yang berdaya saing global di era digital.Kami optimistis bahwa dengan adanya rasa saling percaya lintas sektor, yakni pemerintah, pelaku bisnis, dan akademisi, akan mampu melewati tantangan dan menggambil peluang di era industri 4.0 atau ekonomi digital,” tandasnya. [EH]

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *