April 16, 2024

Keluarga Berkualitas, Bangsa dan Negara Berkualitas

0

Oleh : Konstantinus Hati, S.ST.,M.Kes

 

“Kehebatan bangsa dan negara Amerika Serikat (AS) bukan pada Gedung Putih atau Presidennya, atau pada Pentogon (keamanannya), tetapi pada keluarga. Keluarga yang berkualitas membuat AS hebat”. Kalimat ini keluar dari mulut mantan Ibu Negara AS, Barbara Bus (istri Presiden AS George Bus senior).

Keluarga yang dimaksud Barbara Bus ialah kekuarga inti (kecil) yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.

Apa yang dikatakan Barbara ini tidaklah berlebihan. Seorang Presiden sebuah negara, tentu tidak langsung menjadi Presiden. Melalui proses dan perjalanan yang panjang. Proses yang penting dari seorang Presiden adalah proses siapa yang melahirkan, dan keluarga mana atau siapa yang mendidiknya sejak awal, termasuk makanan dan minuman apa yang diterimanya sejak dari dalam kandungan ibunya.

Suatu desa dikatakan masyarakatnya beradab, tentu karena di desa itu memiliki keluarga-keluarga yang berkualitas. Seperti anggota keluarga yang sehat badan dan jiwa, anti mabuk, anti judi, dan sebagainya. Jadi intinya keluarga adalah fondasi utama sebuah bangsa bahkan masyarakat dunia.

Di Indonesia, dalam perspektif program pembangunan, batasan keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak kandung. Batasan ini sering dipakai sebagai data dalam memberikan perhatian bantuan pemerintah maupun konsentrasi pembangunan dalam setiap program keluarga.

Harganas

Di Indonesia, negara sejak lama menganggap keluarga sebagai unsur penting. Hal ini bisa dibuktikan bahwa tanggal 29 Juni ditetapkan sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas), yang konsisten memperingatinya adalah Badan Keluarga Berencana Nasional (BKBN).

Penetapan tanggal tersebut sejak tahun 1993 dan diperkuat melalui amanat Keputusan Presiden Nomor 39 tahun 2014  tentang  Hari Keluarga Nasional (Harganas).

Setiap kali melaksanakan upacara Harganas  Kepala BKBN selalu menekankan pada delapan fungsi keluarga, paling tidak versi BKKBN. Fungsi-fungsi itu adalah pembinaan dalam bidang rohani yaitu fungsi agama;  keluarga sebagai tempat membagi cinta kasih yaitu fungsi cinta kasih; keluarga sebagai pusat perlindungan yaitu fungsi perlindungan.

Selanjutnya keluarga sebagai pusat pusat dan sumber perencanaan ekonomi yaitu fungsi ekonomi; keluarga sebagai pemberi pendidikan dini informal dan nonformal yaitu fungsi pendidikan; keluarga sebagai penerus genetik yaitu fungsi reproduksi; keluarga sebagai tempat hidup bersama yang nyaman yaitu fungsi sosial.

Dan yang lain lagi adalah keluarga sebagai komponen terkecil memelihara dan menjaga lingkungan hidup atau sebagai fungsi lingkungan.

Kesemua fungsi keluarga di atas idealnya harus dilaksanakan semua individu dan keluarga di Indonesia.

Fungsi tersebut akan terlaksana kalau masing-masing anggota keluarga menjalankan perannya. Seperti ayah dan ibu merekatkan satu sama lain dalam keluarga harus mengedepankan pendekatan familiar-persuasif.

Pendekatan persuatif yang paling tepat dalam keluarga adalah reuni keluarga (the family reuniting), menciptakan momen interaksi yang tepat dalam keluarga ( the top interacting of family), menciptakan kemampuan atau kekuatan atau daya dalam keluarga untuk memenuhi kebutuhan individunya ( the empowering of family) dan menciptakan keluarga yang terbuka.

Setiap individu harus terbuka akan keinginannya, berdiskusi, berbagi pendapat, ramah serta menciptakan iluminasi kehidupan sosial keluarga yang aman (the sharing and caring of family).

Cecok untuk Cocok

Keluarga yang baik tidak berarti tidak ada pertengkaran atau percecokan. Pertengkaran atau percecokan justru membuat saling mengenal dan saling pengertian antarpribadi dalam keluarga. Dalam konteks inilah ada ungkapan bahwa cecok untuk cocok.

Setiap keluarga harus ada perbedaan pendapat karena itu adalah ciri penting keluarga yang terdiri dari individu cerdas, pintar dan merdeka dalam meyampaikan serta mempertahankan pendapat. Mengapa ? Jawabanya setiap individu dalam keluarga memiliki kemampuan berbicara, kebebasan berpendapat dan juga keberanian untuk bertengkar. Ingat ! Ayah harus menanamkan kebajikan bagi diri anaknya dan ibu menanamkan kelemahlembutan bagi anaknya. Dalam kebajikan ada keberanian dan dalam kelemahlembutan ada kasih sayah. Keduanya harus bisa dipraktekan dalam keluarga.

Keluarga Berkualitas

Untuk menciptakan keluarga Indonesia berkualitas, pemerintah membentuk Undang-undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Kependudukan dan Pembangunan. Dalam UU ini disebutkan bahwa untuk menciptakan keluarga berkualias harus adanya pembatasan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan keluarga dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

Tujuan pembatasan kelahiran adalah supaya ibu dan bapak (keluarga) bisa merawat anaknya; memberi gizi yang cukup serta bisa menyekolah anak-anak. Anak-anak dengan gizi yang cukup sejak dalam kandungan tentu tidak akan terjadi cacat mental dan fisik, seperti stunting.

Dulu ada prinsip, “banyak anak, banyak rejeki”. Itu di zaman di mana orang mencari nafkah atau mencari makan dengan menebang hutan untuk  berladang. Sekarang lahan terbatas. Yang dipentingkan keahlian dalam membangun usaha. Untuk itu, pendidiklah yang diutamakan. Keluarga yang memiliki anak banyak, tidak mungkin bisa menyekolahkan semuanya. Akibatnya banyak anak yang tidak mengeyam pendidikan.

Setiap wanita Indonesia saat ini sudah bisa ditekan jumlah kemampuan melahirkan. Pada tahun 1970-an setiap wanita mampu melahirkan 7-10 orang anak bahkan lebih. Namun saat ini wanita Indonesia hanya melahirkan 2-3 orang. Untuk Provinsi NTT sudah TFR-nya sudah mencapai 3,34 artinya setiap wanita hanya melahirkan 3-4 orang.

Selanjutnya pendewasaan usia perkawinan. Ini penting demi kesehatan ibu serta kematangan psikologi ibu untuk mendidik anaknya. Sampai saat ini masih banyak anak Indonesia yang hamil di bawah usia 15 tahun. Dalam Jateng.bkkbn.go.id menyampaikan informasi statistik BPS Indonesia bahwa terdapat anak Indonesia hamil usia kurang dari 15 tahun mencapai angka 35%.

Keluarga merupakan icon pembangunan yang terkonsentrasi dari semua bidang kehidupan bangsa dan negara. Mencapai ketahanan ekonomi dan kesejahteraan kehidupan merupakan suatu prestasi dan juga prestise dalam sosial bagi keluarga.

Banyak keluarga sukses dalam ekonomi sehingga kehidupan mereka pasti sejahtera, namun tidak sedikit pula jumlahnya yang menderita.

Menurut data masih banyak keluarga kita di Indonesia ini yang memiliki anggota keluarga yang disfabilitas yang kuarng bahkan tidak diperhatikan, angka stunting yang masih tinggi, kemiskinan yang semakin susah ditangani.

Bahkan hal ini pun terdapat banyak di tengah banyaknya orang-orang pintar yang setiap hari berkeliaran dan pandai bicara tentang hidup ini. Namun, tidak sedikit pendapat mereka kurang didengar walaupun mereka senantiasa berdengung untuk membela kaum yang miris terlupakan.

Banyak berita mempublikasikan bahwa masih terdapat 15,8% keluarga yang memiliki anggota keluarga yang memiliki gangguan jiwa berat. Petikan data Kemkes oleh Trihono pada Southeast Asia Mental Health 2018 di Jakarta tanggal 30 Agustus yang disampaikan oleh Konsultan Health Policy Unit telah menggambarkan hal tersebut sudah ditangani oleh organisasi mereka.

Sayang di daerah kita banyak kaum disfability yang kurang diperhatikan. Terutama di NTT belum adalah Rumah Sakit besar untuk gangguan jiwa. Setiap gangguan pasti ditangani namun belum maksimal paling masih ditangani di Rumah Sakit WZ Yohanes karena ada ruangan khusus. Namun, belum mempunyai rumah sakit khusus untuk gangguan jiwa.

Selain ribut dengan persoalan kesehatan lain, keluarga Indonesia juga harus mengatasi persoalan kemiskinan yang berujung stunting. Persoalan stunting adalah fokus perhatian bangsa saat ini.

Berdasarkan data BPS Indonesia masih terdapat 21,1% stunting dan tertinggi adalah NTT mencapai 40,3% disamping terrndah adalah Bali 19,1%. Artinya masih terdapat 20,1 juta anak Indonesia yang menderita stunting(sumber data status Gizi-PSG 2017 Kemkes RI.

Stunting merupakan salah penghabat negara untuk mendapatkan generasi cerdas dan berkualitas. Kita dituntut untuk berperang membina perilaku perbaikan gizi serta giat bekerja memperoleh rejeki dalam hidup agar keluarga kita bebas dari bahaya stunting.

 

Keluarga stunting harus menghadapi hal-hal seperti anak yang perkembangan otaknya dan fisiknya terlambat, anak yang sulit berprestasi, anak yang rentan terhadap penyakit, serta anak cepat gemuk saat dewasa. Hal ini akan rentan menderita penyakit jantung dan diabetes. Semua persoala ini merupakan hambatan dan bahaya keluarga Indonesia. Bagi negara, bahaya stunting sudah menelan Rp 300 triliun serta menurunkan produk domestik mencapai 3%.

Atasi Stunting

Apa langkah keluarga mengatasi stunting ? Keluarga Indonesia harus memerangi stunting melalui empat langkah berikut, pertama, berikan ASI dan makanan pendamping ASI bagi anak sebelum mencapai usia 2 tahun. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan gizi 1000 hari kehidupan pertama.

Pembentukan kecerdasan anak dimulai sejak dalam kandungan ketika otaknya mulai terbentuk pada usia kehamilan awal, maka mulai saat itu asupan gizi bagi ibu hamil harus terpenuhi maksimal agar tidak boleh ada bagian otaknya yang kosong. Kedua,  akses air bersih dan fasilitas sanitasi. Ketersediaan air bersih merupakan unsur kehidupan yang paling penting. Kitab suci saja menyebutnya air sumber hidup. Air merupakan unsur paling penting dalam kebutuhan tubuh. Dengan tersedianya air bersih maka keluarga pasti sehat.

Perilaku hidup bersih dan sehat pasti akan terpenuhi maka dengan demikian anggota keluarga tidak mudah terkena penyakit menular maupun penyakit tidak menular.

Ketiga, pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil. Seorang ibu hamil harus memenuhi tiga unsur utama penting dalam makanannya yaitu protein, karbohidrat dan vitamin. Protein bisa diperoleh dari daging, telur atau kacang-kacangan, sedangkan karbohidrat didapat dari padi,jagung dan umbi-umbian serta vitamin bersumber dari sayuran hijo.

Realita pada masyarakat kita ibu hamil hanya makan nasi dan mie. Itu artinya dia hanya mendapat satu unsur yaitu karbohidrat. Ah.. sayang ya, ada lahan depan rumah namun tidak dimanfaatkan untuk menanam sayur.

Keempat, pemantauan pertumbuhan balita di posyandu. Masih banyak anak Indonesia yang tidak ke posyandu, pada posyandu merupakan tempat mendapat konseling gizi terbaik sampai saat ini. Di posyandu seorang ibu dan ayah bisa mendapat pesan gizi dari petugas dan sebaya.  xxx

 

 

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *