April 16, 2024

Ayo Indonesia Ajak Masyarakat Cegah Stunting

0

Direktur LSM Ayo Indonesia Tarsi Hurmali (kanan) bersama perwakilan dari Yayasan W. P. Scmitz asal Duesseldorf- Jerman mengunjungi masyarakat yang anaknya diduga mengalami stunting di Desa Desa Welu, Cibal, Manggarai, NTT, Jumat (12/7/2019). ( Foto: beritasatu.com / Willy Grasias )

Ruteng, Topvoxpopuli.com – Satu satu parameter untuk mengukur ekonomi suatu daerah bagus atau tidak adalah ada atau tidaknya anak balita mengalami stunting di daerah itu. Semakin tinggi angka anak-anak yang mengalami stunting maka bisa dipastikan ekonomi daerah itu tidak bagus alias miskin.

Salah satu daerah (Provinsi) miskin di Indonesia sampai saat ini adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Benar saja, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan Provinsi NTT memiliki persentase balita stunting cukup tinggi yakni 42,6%.

Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya.

Karena itulah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Ayo Indonesia yang berkantor Ruteng (Ibu Kota Kabupaten Manggarai, NTT) mendatangi desa-desa terpencil di wilayah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur NTT untuk  mensosialisakan kepada masyarakat bagaimana agar anak-anak tidak mengalami stunting. Selain itu, Ayo Indonesia memerangi anak-anak yang mengalami stunting dengan memberikan bantuan makanan tertentu.

Pada Jumat (12/7/2019), Ayo Indonesia bersama perwakilan dari Yayasan W. P. Scmitz  asal Duesseldorf- Jerman mendatangi Desa Welu yang berada dalam wilayah kerja Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pagal, Kecamatan Cibal,  Manggarai, NTT.

Di hadapan kelompok sasaran bersama para kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan para petugas dari Puskesmas Pagal, Direktur LSM Ayo Indonesia Tarsi Hurmali mengatakan, banyak yang tidak tahu kalau anak dengan bertubuh pendek adalah tanda dari adanya masalah gizi kronis pada pertumbuhan tubuh si anak. Kebanyakan orang tua hanya melihat perkembangan dan pertumbuhan anaknya dari berat badan saja.

Lebih lanjut pria yang malang melintang dalam hal pembedayaan masyarakat yang sering disapa Tarsi itu melanjutkan, jika berat badan cukup atau melihat pipi anaknya sudah sedikit tembem, anak tersebut dianggap sudah sehat. Padahal, tinggi badan adalah salah satu faktor yang menentukan apakah nutrisi anak sudah baik atau belum.

Menurut Tarsi, tubuh pendek pada anak yang berada di bawah standar normal, merupakan akibat dari kondisi kurang gizi yang telah berlangsung dalam waktu lama. Hal tersebut yang kemudian membuat pertumbuhan tinggi badan anak terhambat, sehingga mengakibatkan stunting.

Yayasan Ayo Indonesia  mendapat dukungan dana dari Yayasan W. P. Scmitz  asal Duesseldorf- Jerman. Yayasan itu mengutus Wolfgang Deppen dan Ursula Deppen untuk hadir dalam kegiatan di Desa Welu, Kecamatan Cibal, Manggarai.

Tarsi menjelaskan, sudah 3.600 audiens dari 26 Posyandu dan staf pemerintah desa dalam wilayah ini telah  mendapatkan informasi tentang stunting dalam berbagai pertemuan. “Baik laki-laki dan perempuan,  remaja dan dewasa, mapupun dari strata sosial yang berbeda,” kata dia.

Hasilnya para kader Posyandu itu sudah trampil menerapkan ukuran stunting di setiap sesi posyandu dan mencatat serta menyimpan untuk selanjutnya melakukan evaluasi.

Selain itu, supaya kader dan staf kesehatan bisa mengukur panjang dan tinggi anak-anak secara akurat juga disiapkan papan ukur panjang dan microtoise.

Dengan cara itu,  masyarakat di wilayah proyek  dapat mengungkapan secara detail tentang penanganan stunting secara  umum, diantaranya  anak di bawah dua tahun yang terindikasi stunting mencapai pertumbuhan panjang yang lebih baik dengan memperbaiki nutrisinya dengan pemberian susu kedelai yang diusahakan oleh Ayo Indonesia.

Erlin Manis, kader Posyandu, Desa Nenu menyampaikan, dirinya sangat bersyukur terlibat bersama Ayo Indonesia dalam mengkampanyekan sekaligus menangani persoalan stunting di desanya.

“Setelah kami dibimbing oleh Yayasan Ayo Indonesia, kami paham betul tentang bahaya stunting untuk bangsa ini ke depan dengan itu kami sebagai kader melaksanakan pendampingan kepada sasaran dengan penuh tanggung jawab, namun penghargaan untuk itu kami dapat 100.000 rupiah/bulan.  “Olehnya kami usulkan agar pemerintah terkait tolong perhatikan itu,” kata dia.

Tarsi mengatakan, stunting adalah kejadian yang tidak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi. Anak masuk ke dalam kategori stunting ketika panjang atau tinggi badannya menunjukkan angka di bawah 2 standar deviasi (SD). Penilaian status gizi yang satu ini biasanya menggunakan grafik pertumbuhan anak Grade Point Average(GPA) dari WHO.

Ia mengatakan, di wilayah kerja Puskesmas Pagal, Ayo Indonesia mencatat terdapat 74 anak di bawah dua tahun (baduta) yang berstatus menderita stunting dan 13 anak mengalami Bumil KEK (kekurangan energi kronis) dan sedang ditangani lembaga ini.

Di Desa Gapong misalnya, ada enam anak baduta yang mengalami Bumil KEK sedangkan anak penderita stunting menyebar di banyak desa lainnya seperti Desa Pagal ada 9 anak, sementara di Desa Wudi, Desa Kentol dan Desa Nontol masing-masing terdapat 5 anak.

Dari evaluasi Juni 2019 yang dilakukan Ayo Indonesia di wilayah ini, 32 kader dari 32 Posyandu telah dilatih dan 98% telah melakukan penyuluhan di Posyandu mereka masing-masing.

Selain itu terdapat 15 ibu hamil dan menyusui dari 10 desa menerima susu kedelai dari para kader terlatih dan 82 anak yang stunting menerima dukungan yang sama. Pemerintah desa juga mulai terlibat dalam kampanye dtingkat posyandu dan desa. [TVP/Willy Grasias]

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *