February 22, 2024

Covid-19 Melanda Dunia Periklanan

0

Oleh : Stephanie Bella Saputri

Mahasiswi Magister Imu Komunikasi UAJY

 

Bentuk media yang paling sukses, baik lama atau baru, adalah mereka yang mampu mengumpulkan, atau membongkar, sesuai kebutuhan, calon konsumen yang akan dibayar oleh pengiklan untuk dijangkau”- Sinclair (2016).

Dunia kini digegerkan dengan munculnya virus corona. Penyebaran virus asal Wuhan, Cina tidak hanya menghebohkan dunia kesehatan, melainkan berdampak pada perekonomian global, misalnya industri media.

Seperti yang dilansir dari variety.com oleh Bridge (2020), dampak ekonomi di Amerika Serikat mengalami penurunan di pasar saham mulai tanggal 01 Maret 2020.

Wabah virus corona telah mengakibatkan kepanikan di seluruh dunia dan berdampak pada perekonomian global, misal industri media. Pemasar di industri media berperan penting selama krisis Covid-19, yakni dengan mendorong pemulihan perekonomian perusahaan.

Sinclair (2016), menegaskan hal ini dikarenakan industri media tersebut bergantung pada pengiklan besar, yang menempatkan iklan mereka melalui agen periklanan.

Banyaknya industri media konvensional mengalami penurunan dibandingkan media sosial dan media yang menggunakan internet.

Hal ini dikarenakan belanja iklan yang mengubah kebiasaan konsumen dan rantai pasokan, yang mana banyak pengguna yang mengakses game online, media sosial dan layanan streaming meningkat dibandingkan konvensional seperti bioskop, olimpiade, event dalam cakupan besar dan media massa konvensional lainnya. Selain itu menurut Sinclair (2016), iklan media konvensional masih menghitung pemirsa dengan melihat berapa banyak khalayak yang mengakses media, dan kemudian mengasumsikan berdasarkan angka-angka itu bahwa khalayak telah melihat konten iklan.

Sedangkan periklanan digital, menghitung khalayak dari jumlah orang yang mengklik iklan. Tingkat respons interaktif menjadi nilai tambah dan data pengguna yang dapat dihasilkan menjadi modal bagi pengiklan.

Di Amerika Serikat, rekor penurunan di pasar saham mulai 01 Maret 2020. Di industri media pun yang terkena dampaknya pada media hiburan yang konvensional, mengalami penurunan kapitalisasi pasar sebesar $91,8 miliar (6,4%). Sedangkan untuk keempat perusahaan teknologi global seperti Google, Amazon, Facebook dan Apple mengalami penurunan sebesar $281,8 miliar (7,1%). Analisis Variety Intelligence Platform tentang sektor ini membagi perusahaan-perusahaan ini menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat dampak:

Sumber: variety.com

Penghasilan, mereka yang mulai Maret dihargai lebih tinggi daripada mereka pada awal Februari. Dari tabel tersebut hanya perusahaan Netflix yang memiliki peningkatan 3% atau $4,7 miliar. Banyak investor yang menilai bahwa layanan Netflix banyak yang dilihat para pelanggan dirumah dikarenakan masa karantina dampak corona.

Sedikit terpengaruh, di mana kapitalisasi pasar menurun kurang dari 5%. Dari tabel tersebut terdapat perusahaan AT&T, WWE, Comcast, Verizon, Altice USA, Amazon mengalami penurunan dari 1,8% hingga 4,8%. Tidak mengalami penurunan yang drastis dikarenakan dapat memenuhi kebutuhan informasi pelanggan terkait pemberitaan up-to-date terkait virus corona dan merupakan jaringan siaran nasional. WWE tidak mengalami penurunan yang tajam dikarenakan banyaknya investor menilai WWE akan melisensikan acara bayar per tayang mereka ke ESPN + dan meningkatkan aliran pendapatannya.

Terkena dampak sedang, dengan penurunan 5% -10%. Dari tabel tersebut terdapat perusahaan Apple, Charter, Facebook dan Google mengalami penurunan 6,3% hingga 9,5%.

Sangat terpengaruh, dengan penurunan lebih dari 10%. Dari tabel tersebut terdapat perusahaan Dish, AMC, Disney, Fox, Lionsgate, ViscomCBS, Sony, Disovery yang mengalami penurunan dari 10,3% hingga 22,9%. Mengalami penurunan drastis dikarenakan pemutaran film sangat dibatasi, karena beberapa negara memiliki pertemuan publik yang terbatas, khawatir virus corona menyebar lebih agresif di Amerika Serikat.

Sedangkan untuk Netflix dan jaringan hiburan melalui MVPD atau internet yang disediakan perusahaan, menyadari akan pentingnya kebutuhan konten bagi konsumen. Sehingga mereka tetap memproduksi konten dan menutupi penurunan yang terjadi.

Sebagai platform layanan streaming, Netflix menjadi salah satu pilihan media hiburan. David Miller, analis dari Imperial Capital dalam Rachmatunnisa (2020), mengatakan bahwa Netflix kini berada di posisi terbaiknya. Faktanya, Netflix memperoleh tambahan 510.000 pelanggan di pasar UCAN dan 7 juta pelanggan internasional, sehingga angka ini jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Di sisi lain, perusahaan media yang bergerak di pertelevisian pun tetap kuat, menganggap pemirsa dapat tumbuh ketika konsumen tetap di rumah. Oleh karena itu, TV sebenarnya dapat memanfaatkan kondisi #workfromhome karena orang-orang tinggal di rumah, mendengarkan berita dan layanan streaming. Steve Nason, Research Director, Parks Associates dalam Zanger (2020), mengatakan bahwa “kapan saja orang-orang di rumah, ada kemungkinan konsumsi video mereka akan naik”.

Jika perusahaan tidak mengalami penurunan dalam segala aspek sebagai dampak dari virus corona, maka perusahaan harus berspesialisasi dalam layanan hiburan dan konten. Dengan begitu, media tersebut dapat mengalami peningkatan jumlah khalayak dikarenakan banyaknya layanan streaming dan media hiburan yang dikonsumsi selama mereka di rumah.

Beberapa strategi media global lainnya dapat diterapkan juga di Indonesia. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa daerah yang lockdown dan Presiden Jokowi pun menegaskan untuk mengurangi aktivasi di luar rumah yaitu kuliah, sekolah dan kerja dilakukan di dalam rumah. Jika periklanan di Indonesia berkeinginan mengalami peningkatan, dapat dialihkan ke media online seperti Youtube, media sosial dan media lainnya yang dapat dikonsumsi hanya dari rumah. Namun bukan berarti media konvensional seperti televisi tidak dapat bertahan saat krisis Covid 19.

Jika televisi mampu berlomba-lomba untuk memberitakan isu terhangat virus corona yang menghebohkan dunia dan hal inilah yang dibutuhkan khalayak untuk mengetahui informasi terbaru, maka akan dilirik oleh para pengiklan dikarenakan banyaknya khalayak yang mengakses televisi tersebut. Tingkat konsumtif akan kebutuhan informasi dan hiburan khalayak akan dimanfaatkan oleh para pengiklan untuk mengiklankan produknya di media-media tersebut.

Sinclar (2016), menegaskan media yang paling sukses tidak dilihat dari bentuknya entah media lama ataupun baru, melainkan media yang mampu mengumpulkan dan membongkar kebutuhan informasi sesuai dengan kebutuhan konsumen yang nantinya akan dibayar oleh pengiklan untuk dijangkau.xx

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *