March 4, 2024

Masyarakat Desak Jalan Provinsi Reo – Hita yang Rusak Parah Segera Diperbaiki

0

Kondisi sebagian jalan Provinsi Reo – Hita yang membelah kampung Kajong, Desa Kajong, Reok Barat, Manggarat, NTT, yang rusak parah. [Foto: Angela Ratnasari Biu]

“SETIAP perjalanan harus pertaruhkan nyawa, setiap perjalanan akan ada bagian kendaraan yang rusak, entah ban pecah, kampas rem habis, sampai pada kerusakan yang berat. Itu disebabkan jalan rusak parah. Entah kapan diperbaiki. Pemerintah kok diam saja ? Di mana pajak rakyat ?”.
Kata-kata itu keluar dari mulut Ari, sopir yang melintasi Jalan Provinsi Jalur Reo, Kecamatan Reok, Manggarai, sampai Rego, Kecamatan Macang Pasar, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) Selasa (18/08/20).
Apa yang diucapkan sang sopir di atas tidaklah berlebihan. Ari merupakan perwakilan semua masyarakat Manggarai, terutama masyarakat Kecamatan Reok dan Kecamatan Reok Barat, yang harus pertaruhankan nyawa dan kendaraan setiap kali bepergian melintasi jalan Provinsi . Jalan terus rusak parah. Berlubang dan sempit. Ini sungguh membahayakan !
Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan. Jalan Provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer
yang menghubungkan ibu kota provinsi dengan ibu kota kabupaten/ kota, atau antar ibukota kabupaten/ kota, dan jalan strategis provinsi.
Kondisi jalan provinsi jalur Reo-Rego semakin hari semakin parah, hal ini mengakibatkan kerusakan pada sarana transportasi darat, sampai sering terjadinya kecelakaan. Tidak hanya itu, kerusakan jalan membuat para pengguna jalan khususnya bagi yang berkendaraan harus memilih melewati jalur lain yang membuat jarak tempuh bertambah, dari 1-2 jam menjadi 3 jam lebih.
Prasarana transportasi yang rusak juga membuat masyarakat menjadi enggan ke kota. Hasil bumi terpaksa mereka menjual kepada tengkulak, dimana harga menjadi sangat murah. Padahal kalau mereka menjual langsung di kota maka harganya lumayan menguntungkan masyarakat.
Jalan Provinsi tersebut membelah sejumlah kampung besar seperti Wae Manis, Racang, Rura, Wontong dan Kajong. Pemandangan di kampung-kampung itu menjadi tidak indah karena tampak Jalan Provinsi yang bopeng.
Masyarakat Reok Barat mengeluh bahwa jalan yang diperbaiki setiap tahun bukan jalan yang rusak, tetapi jalan yang bagus dibuat semakin bagus, dan perbaikan jalan dikhususkan di daerah perkotaan. Misalnya di Kota Reo yang hampir setiap tahun jalannya diperbaiki, sedangkan jalan yang mengalami kerusakan arah dibiarkan saja.
“Kalaupun ada perbaikan itu pasti di Reo, jalannya rusak sedikit pasti diperbaiki. Kalau di jalan lain, biar rusak sampai oto jalan mau terbalik dibiarkan saja” keluh seorang supir truk.
Petugas Kesehatan di Reok Barat juga mengeluh soal kerusakan jalan ini. Akibat kerusakan jalan menghambat pekerjaan mereka. Misalnya saat mengantar pasien ke Rumah Sakit rujukan, harus bisa memilih antara keselamatan pasien dan pertarungan melawan medan jalan yang rusak.
“Setiap bawa pasien saya harus bertarung dengan jalan, karena kalau terlambat nyawa pasien jadi taruhan” ungkap Ardi, supir Ambulance Puskesmas Waekajong, Desa Kajong, Reok Barat.
Selama kurang lebih tiga tahun terakhir, belum ada perbaikan jalan yang rusak, masyarakat kebingungan harus menuntut kepada siapa, sehingga mereka hanya bisa menunggu sampai pihak yang bertanggungjawab membuka mata.
Setiap warga yang melewati jalan provinsi yang rusak, sangat mengharapkan kepedulian pemerintah untuk segera mengambil tindakan atas kerusakan jalan. Selain itu masyarakat mengharapkan agar infrastruktur yang dibangun tidak mudah rusak agar tidak perlu diperbaiki setiap tahun.
Camat Reok Barat, Quintus Nang, ketika ditemui TVP, mengatakan, Jalan Provinsi khususnya yang ada di jalur Reok Barat sudah disurvei bersama bupati Manggarai, tetapi sampai sekarang ini belum ada tanggapan dari pemerintah provinsi. “Saya dan bupati juga pihak PU (pekerjaan umum) sudah melakukan survei, kondisi jalan yang rusak juga sudah di foto. Andaikan saja jalan ini Jalan Kabupaten, Pemerintah Kabupaten Manggarai sudah turun tangan,” tegas Quintus Nang.
Quintus berharap, agar isu jalan dapat diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang berasal dari Reok Barat. “Harapan saya, DPR yang berasal dari Reok Barat bisa menyerukan perbaikan jalan ini,” kata dia.
Data yang didapat TVP dari Pemkab Manggarai, jalan yang dikelola Pemkab Manggarai sepanjang 1.605,7 km, dengan rincian hotmix (HRS) sepanjang 127,37 km; aspel atau lapen sepanjang 966,83 km; pengerasan atau telford sepanjang 326,97 km; jalan tanah sepanjang 184,54 km.
Jalan Provinsi di Manggarai yakni jalan dari Simpang Cumbi- Golocala- Iteng sepanjang panjang 45,10 km dalam kondisi rusak ringan dan rusak berat sepanjang 13 km atau 28,82%.
Selanjutnya jalan dari Reo- Dampek (Manggarai Timur) – Pota (Manggarai Timur), yang berada dalam wilayah Kabupaten Manggarai sepanjang sekitar 200 km kondisi baik.
Selanjutnya jalan dari Hita- Simpang Tiga (Kabupaten Manggarai Barat) – Kedindi (Reok, Manggarai) sepanjang 44 km, dan yang berada dalam wilayah Manggarai sekitar 30 km dalam kondisi rusak. [TVP/Angela Ratnasari Biu]

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *